Contoh Proposal Penelitian

PENGARUH GURU BERGELAR SARJANA

TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(Penelitian Eksperimen di Kelas V MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis)

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Permasalahan belajar sebenarnya memiliki kandungan substansi yang kompleks. Berbagai macam teori belajar telah ditawarkan para pakar pendidikan dengan belajar dapat ditempuh secara efektif dan efisien, dengan implikasi waktu cepat dan hasilnya banyak. Namun, sampai saat ini belum ada satupun teori yang dapat menawarkan strategi belajar secara tuntas. Masih banyak persoalan-persoalan belajar yang belum tersentuh oleh teori-teori tersebut.

Sementara guru itu berinteraksi dan bekerja pada sebuah organisasi yang menaunginya yakni organisasi persekolahan, amat ditentukan oleh sikap dan perilaku manusia-manusia di dalamnya. Apabila sumber daya manusia suatu organisasi memiliki kompetensi yang handal, maka ia merupakan unsur penting bagi kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuannya. Sebaliknya, apabila sumber daya manusia di dalamnya tidak memiliki kompetensi, maka suatu organisasi pendidikan akan sulit mencapai tujuannya dengan maksimal.Kompleksitas persoalan yang terkait dengan belajar inilah yang menjadi penyebab sulitnya menuntaskan strategi belajar. Ada banyak faktor yang mesti dipertimbangkan dalam belajar, baik yang bersifat internal maupun yang eksternal. Di antara sekian banyak faktor eksternal terdapat guru yang sangat berpengaruh terhadap siswa. Sukses tidaknya para siswa dalam belajar di sekolah, sebagai penyebab tergantung pada guru. Ketika berada di rumah, para siswa berada dalam tanggung jawab orang tua, tetapi di sekolah tanggung jawab itu diambil oleh guru. Sementara itu, masyarakat menaruh harapan yang besar agar anak-anak mengalami perubahan-perubahan positif-konstruktif akibat mereka berinteraksi dengan guru. (www.infoskripsi.com, di akses 17 Februari 2011).

Salah satu faktor yang diyakini memberikan sumbangan besar terhadap peningkatan kompetensi sumber daya manusia suatu organisasi pendidikan adalah faktor Profesionalisme Tenaga Pengajar (memiliki sertifikat Sarjana). Profesionalisme adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Undang-undang guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005)

Seseorang dengan profesionalisme yang rendah akan sulit untuk mengoptimalkan segala potensinya dalam meningkatkan kompetensinya. Ia akan mudah terjerumus pada rutinitas kerja yang kurang bermakna. Dalam bekerja ia tak lebih dari benda mati yang bekerja tanpa himmah dan motivasi. Ia bekerja hanya sebatas melaksanakan tugas dan kewajiban semata. Ia akan sulit melakukan inovasi. Ia tidak akan memiliki kreativitas. Ia terbelenggu oleh pekerjaan rutin tanpa disertai oleh semangat untuk berprestasi dan berkompetisi.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki profesionalisme yang tinggi, maka amat dimungkinkan untuk mengoptimalkan segala kemampuannya untuk memiliki kompetensi yang maksimal. Sebab, ia memiliki motivasi untuk berprestasi dan mengejar tujuan organisasi pendidikannya. Ia memiliki semangat untuk berkreasi, berinovasi, dan berinisiatif untuk memajukan organisasi pendidikannya.

Oleh karena itu, guru yang memiliki sertifikat sarjana dimungkinkan dapat memberikan inovasi dan motivasi bagi para siswanya untuk lebih meningkat lagi dalam belajar sehingga proses pendidikan sesuai dengan tujuan yang ingin di capai sesuai yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di samping itu profesionalisme guru yang di tandai dengan adanya gelar sarjana merupakan salah satu wujud untuk meningkatkan motivasi belajar siswa karena dengan guru yang mengajarnya memiliki gelar sarjana, akan menimbulkan semangat dan rasa hormat yang lebih dibanding dengan tidak memiliki gelar.

Dalam pelaksanaan KBM sehari-hari di MI Bojongmalang yang mayoritas guru dengan pendidikan D2 dan Belum Sarjana (masih kuliah) dibanding dengan yang sudah sarjana, memiliki perbedaan yang signifikan terutama dalam menggunakan metode dan penyelesaian masalah yang disesuaikan dengan keadaan siswanya. Untuk melihat perbedaan tersebut dapat di lakukan dengan menggunakan sistem eksperimen yang tengah penulis lakukan pada penelitian ini, guna untuk membuktikan dan melihat sejauh mana   motivasi yang di hasilkan oleh perbedaan gelar akademik bagi para guru tersebut.

Dengan adanya hal seperti itu maka penulis mencoba meneliti di sebuah sekolah mengenai hal tersebut apakah benar adanya sebuah pengaruh antara kondisi guru yang memiliki gelar sarjana terhadap motivasi belajar siswa? Maka penulis mengambil sebuah judul untuk mengetahui masalah tersebut dengan “PENGARUH GURU BERGELAR SARJANA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PAI (Penelitian Eksperimen di Kelas V MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis)”

B.     Perumusan Masalah

Dari uraian di atas ( latar belakang ), permasalahan yang hendak dicari  jawabannya melalui penelitian ini  dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah guru bergelar sarjana di MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis ?
  2. Bagaimanakah Motivasi Belajar siswa pada Mata Pelajaran PAI MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis ?
  3. Bagaimanakah pengaruh Guru Sarjana terhadap Motivasi Belajar siswa pada Mata Pelajaran PAI  di MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan Latar Belakang dan Perumusan Masalah di atas maka tujuan penelitian pada penulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk Mengetahui guru bergelar sarjana di MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis
  2. Untuk Mengetahui Motivasi Belajar siswa pada Mata Pelajaran PAI MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis
  3. Untuk Mengetahui pengaruh Guru Sarjana terhadap Motivasi Belajar siswa pada Mata Pelajaran PAI  di MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis

D.    Kegunaan Penelitian

1.   Kegunaan secara Teoritis

Memberikan masukan dalam rangka penyusunan teori dan konsep-konsep baru terutama untuk mengembangkan bidang ilmu pendidikan Agama Islam yang ada di Sekolah Dasar.

  1. Kegunaan secara Praktis

a)  Bagi Siswa

Diharapkan siswa selalu meningkatkan motivasi belajar khususnya dalam mata pelajaran PAI.

b)   Bagi Guru

Mendorong guru untuk menciptakan proses belajar mengajar yang bisa menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap mata pelajaran PAI dengan memilikinya gelar Sarjana yang merupakan salah satu ciri guru profesional.

c)   Bagi Sekolah

Sekolah dapat lebih meningkatkan kualitas proses belajar mengajar untuk keseluruhan mata pelajaran pada umumnya dan mata pelajaran PAI khususnya.

d)   Bagi Peneliti

Merupakan wahana latihan pengembangan ilmu pengetahuan melalui kegiatan penelitian.

E.     Tinjauan Pustaka
1.      Pengertian Guru

Guru adalah pendidik dan pengajar pada  pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. (http://id.wikipedia.org, di akses tanggal 17 Februari 2011)

Guru adalah seorang pendidik di sekolah yang peranannya sama dengan orang tua, dia mendidik dan mengasuh anak-anak agar bisa memahami sebagai sesuatunya belum diketahui, agar dapat menjadi tahu dan mengerti akan sesuatu

Sementara itu pendidik menurut pandangan Islam sebagaimana di sampaikan oleh Ahmad tafsir adalah  orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).(Tafsir, 1992:74-75).

Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Dan mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk social dan sebagai makhluk individu yang mandiri. (Suryosubrata, 1982;26).

Pendidik pertama dan utama adalah orang tua sendiri. Mereka berdua yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak sangat tergantung kepada pengasuhan, perhatian, dan pendidikannya. Kesuksesan anak kandung merupakan cermin atas kesuksesan orang tua juga. Firman Allah SWT. dalam Surat At Tahrim ayat 6 berbunyi:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Q.S. At Tahrim, 66:6)

Pendidik di sini adalah mereka yang memberikan pelajaran peserta didik, yang memegang suatu mata pelajaran tertentu di sekolah.  Orang tua sebagai pendidik pertama Dan utama terhadap anak-anaknya, tidak selamanya memiliki waktu yang leluasa dalam mendidik anak-anaknya. Selain karena kesibukan kerja, tingkat efektifitas dan efisiensi pendidikan tidak akan baik jika pendidikan hanya dikelola secara alamiah. Oleh karena itu, anak lazimnya dimasukkan ke dalam lembaga sekolah. Penyerahan peserta didik ke lembaga sekolah bukan berarti melepaskan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama, tetapi orang tua tetap mempunyai saham yang besar dalam membina dan mendidik anak kandungnya.

2.      Gelar bagi Guru Sarjana

Sebelum tahun 1993, gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain Doktorandus (Drs.), Doktoranda (Dra.), dan Insinyur (Ir.). Setelah tahun 1993, penggunaan baku gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain Sarjana Ekonomi (S.E.), Sarjana Hukum (S.H.), Sarjana Teknik (S.T.), Sarjana Teknologi Pertanian (S.TP), Sarjana Agama (S.Ag.), Sarjana Pendidikan (S.Pd.), Sarjana Komputer (S.Kom.) dan Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.). Gelar sarjana ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S diikuti inisial bidang studi. Strata pendidikan Sarjana ini disebut sebagai Strata 1 atau biasa disingkat S1. Studi Sarjana terdiri dari 144 SKS (satuan kredit semester) dan secara normatif ditempuh selama 4 tahun. Selain itu sekarang pendidikan ada Diploma IV dengan gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST). (http://ceriwis.us, di akses tanggal 17 Februari 2011)

Sarjana (dari bahasa sansekerta, dalam bahasa Inggris: Bachelor) adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S-1). Untuk mendapatkan gelar sarjana. Secara normatif dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun, tapi ada juga yang menyelesaikannya dalam 2 (dua) tahun ataupun lebih dari 6 (enam) tahun. Hal tersebut tergantung dari kebijakan dari perguruan tinggi  yang ditetapkan. Karya Ilmiah yang diwajibkan dan merupakan persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana dinamakan dengan skripsi. (http://id.wikipedia.org, di akses tanggal 17 Februari 2011)

3.      Standar profesionalisme guru

Profesi guru adalah orang yang Memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu (Makagiansar, M. 1996:50)

Profesi guru yaitu kemampuan yang tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan. Ada beberapa peran yang dapat dilakukan guru sebagai tenaga pendidik, antara lain: (a) sebagai pekerja profesional dengan fungsi mengajar, membimbing dan melatih (b) pekerja kemanusiaan dengan fungsi dapat merealisasikan seluruh kemampuan kemanusiaan yang dimiliki, (c) sebagai petugas kemasyarakatan dengan fungsi mengajar dan mendidik masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik. (Nasanius, Y. 1998:20)

Profesi Guru adalah orang yang Bekerja atas panggilan hati nurani. Dalam melaksanakan tugas pengabdian pada masyarakat hendaknya didasari atas dorongan atau panggilan hati nurani. Sehingga guru akan merasa senang dalam melaksanakan tugas berat mencerdaskan anak didik. (Galbreath, J. 1999:12)

Kemampuan melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab guru merupakan sebagian dari kompetensi profesionalisme guru. Moh Uzer Usman (2000:7) mengemukakan tiga tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. (a) mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, (b) mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, (c) melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. DG Armstrong dalam Nana Sudjana (2000:69) mengemukakan ada lima tugas dan tanggung jawab pengajar, yakni tanggung jawab dalam (a) pengajaran, (b) bimbingan belajar, (c) pengembangan kurikulum, (d) pengembangan profesinya, dan (e) pembinaan kerja sama dengan masyarakat.

Mohamad Ali (2000:4-7) mengemukakan tiga macam tugas utama guru, yakni (a) merencanakan tujuan proses belajar mengajar, bahan pelajaran, proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, menggunakan alat ukur untuk mencapai tujuan pengajaran tercapai atau tidak, (b) melaksanakan pengajaran , (c) memberikan balikan (umpan balik).

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut dapat penulis simpulkan tentang tugas guru yaitu (a) tugas pengajaran, bimbingan dan latihan kepada siswa, (b) pengembangan profesi guru, (c) pengabdian masyarakat.

Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab di atas, seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan tertentu. Kemampuan dan keterampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi profesionalisme guru. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik.

Pengertian dasar kompetensi (competency) yakni kemampuan atau kecakapan. Menurut Mc. Load dalam Moh Uzer Usman (2000:14) Kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Sedang yang dimaksud dengan kompetensi guru (teacher competency) merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru merupakan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai pengajar yang dilakukan secara bertanggung jawab dan layak.

Glasser dalam Nana Sudjana (2000:69) mengemukakan empat jenis kompetensi tenaga pengajar, yakni (a) mempunyai pengetahuan belajar dan tingkah laku manusia, (b) menguasai bidang ilmu yang dibinanya, (c) memiliki sikap yang tepat tentang dirinya sendiri dan teman sejawat serta bidang ilmunya , (d) keterampilan mengajar.

4.      Motivasi Belajar

Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu di pahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi / memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk pelajaran.

Motivasi belajar siswa dapat di analogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap kefektifan usaha belajar siswa.

a.                Pengertian Motivasi Belajar

Banyak para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing, namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. untuk lebih jelasnya mari kita lihat pengertian motivasi.

Banyak sekali, bahkan sudah umum orang menyebut dengan “motif” untuk menunjuk mengapa seseorang itu berbuat sesuatu. Kata “motif”, di artikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan  sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas- aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan) . Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/ mendesak. (Sardiman, 1992:73)

Motivasi berasal dari kata motif yang berarti keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertindak melakukan suatu kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan ( Syamsu,1994: 36)

Menurut Whittaker yang dikutip Darsono (2000:61) “motivasi adalah suatu istilah yang sifatnya luas yang digunakan dalam psikologi yang meliputi kondisikondisi atau keadaan internal yang mengaktifkan atau memberi kekuatan pada organisme dan mengarahkan tingkah laku organisme mencapai tujuan”.

Motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Nasution, 2000: 73)

Sementara itu, Nasution membedakan antara ‘motif’ dan ‘motivasi’. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya. Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu, 1) kebutuhan, 2) dorongan, dan 3) tujuan (Dimyati dan Mudjiono,2002:80)

Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan. Sedangkan dorongan merupakan kekuatan untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti motivasi. Sedangkan tujuan adalah hal yang ingin di capai oleh seseorang individu. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku dalam hal ini  perilaku belajar.

Ada dua prinsip yang dapat digunakan untuk meninjau motivasi, ialah: (1) Motivasi dipandang sebagai suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini akan membantu kita menjelaskan kelakuan yang kita amati dan untuk memperkirakan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang; (2) Kita menentukan karakter dari proses ini dengan melihat petunjuk- petunjuk dari tingkah lakunya. Apakah petunjuk petunjuk-petunjuk dapat di percaya, dapat dilihat kegunaannya dalam memperkirakan tingkah laku lainnya. (Hamalik, 2001: 158)

Mc. Donald mengatakan bahwa, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai dengan munculnya feeling dan di halui dengan tanggapan terhadap adanya tujuan (Fathurrohman dan Sutikno, 2007:19)

Didalam perumusan ini kita dapat melihat bahwa ada tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu:

1)      Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahan- perubahan dalam motivasi timbul dari perubahan-perubahan tertentu didalam sistem neuropisiologis dalam organisme manusia, misalnya Karena terjadi perubahan dalam sistem pencernaan maka timbul motif lapar. Tapi ada juga perubahan energi yang tidak diketahui

2)      Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan affective arousal. Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang bermotif.

3)      Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermotivasi mengadakan respons-respons yang tertuju kearah suatu tujuan

Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar (Ahmadi et all., 2004: 83)

Dalam kegiatan belajar berlangsung dan keberhasilannya bukan hanya ditentukan intelektualnya, tetapi juga faktor karakteristik individunya sendiri salah satunya ialah motivasi. Motivasi belajar dapat diartikan sebagai keseluruhan dengan daya penggerak psikis di dalam diri siswa atau mahasiswa yang menimbulkan kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Abror, 1993:56).

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2002: 75).

Dari beberapa definisi yang diungkapkan di atas, pada intinya pemberian motivasi merupakan hal penting dalam pembelajaran dan juga motivasi merupakan faktor pendorong untuk melakukan suatu perbuatan.

b.  Jenis-Jenis Motivasi Belajar

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan yang ada dapat tercapai.  Dalam kegiatan belajar juga motivasi tentu sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktifitas belajar (Fathurrohman dan Sutikno,2007: 19).

Berbicara mengenai jenis- jenis motivasi, bisa ditinjau dari banyak sudut pandang. Menurut Sardiaman (1992: 86-90) membagi motivasi menjadi empat sudut pandang yaitu:

1.      Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya

a)      Motif-motif bawaan.

      Yang dimaksud dengan motif  bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya: dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk istirahat, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini seringkali disebut motif-motif yang diisyaratkan secara biologis.

b)      Motif-motif yang dipelajari

      Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini seringkali disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk.

2.      Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis

a)      Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat

b)      Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.

c)      Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyengkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.

3.      Motivasi jasmaniah dan rohaniah

Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya: refleks, instink otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah, yaitu kemauan.

4.      Motivasi instrinsik dan ekstrinsik

a)      Motivasi instrinsik

Yang di maksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau yang mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang di maksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tijuan yang terkandung di dalam perbuatan  balajar itu sendiri. Sebagai contoh seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapatkan pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konsturktif, tidak karena tujuan yang lain-lain.

b)      Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagi contoh seseorang itu belajar kata tahu besok paginya akan ujian  dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga dipuji oleh pacarnya, atau temannya.

c)                       Bentuk- Bentuk Motivasi dalam Belajar.

Dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi sangat di perlukan. Baik motivasi yang bersifat intrinsik ataupun ekstrinsik. Karena motivasi dalam belajar dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan aktifitas belajar siswa. Dalam kaitannya dengan itu pula perlu di ketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi itu bermacam-macam dan bervariasi.

Menurut Sardiman (2002:92-95) ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar di sekolah:

1.   Memberi angka

Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Bagi siswa angka-angka itu merupakan motivasi yang kuat. Sehingga yang biasa dikejar siswa adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada raport angkanya baik-baik.

2.   Hadiah

Hadiah dapat dikatakan sebagai motivasi tetapi tidak selalu karena hadiah untuk suatu pekerjaan mungkin tidak akan menarik perhatian bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat dalam pekerjaan tersebut.

3.   Saingan atau kompetisi

Saingan atau kompetisi dapat dijadikan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar.

4.   Ego-involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerima sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.

5.   Memberi ulangan

Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Memberi ulangan seperti juga merupakan sarana motivasi.

6.   Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan apalagi kalau terjadi kemajuan akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui grafik hasil belajar semakin meningkat maka ada motivasi dalam diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.

7.   Pujian

Pujian ini merupakan suatu bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Dengan pujian yang tepat yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

8.   Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.

9.   Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik memang ada motivasi untuk belajar sehingga hasilnya akan baik.

10. Minat

Motivasi sangat erat hubungannya dengan minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepat kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat.

11. Tujuan yang diakui

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik olah siswa, merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang hendak dicapai, karena dirasa berguna dan menguntungkan maka akan timbul gairah untuk terus belajar.

Sementara itu  banyak juga strategi dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut: 1) Menjelaskan tujuan belajar kepada peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula  motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar. 2) Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar. 3) Membentuk kebiasaan belajar yang baik. 4) Membantu kesulitan belajar peserta didik , baik secara individual ataupun kelompok. 5) Menggunakan metode yang bervariasi. 6) Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. (Fathurrohman dan Sutikno, 2007:21)

5.      Pendidikan Agama Islam (PAI)
a.      Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam adalah pendidikan dengan cara melalui ajaran-ajaran Agama Islam, berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.

Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar merupakan bagian integral dari program pengajaran pada setiap jenjang lembaga pendidikan tersebut serta merupakan usaha bimbingan dan pembinaan guru terhadap peserta didik dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam sehingga menjadi manusia  yang taqwa dan warga Negara yang baik. .(Ardiwinata dkk, 1996:146).

Beliau juga menjelaskan bahan pelajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar meliputi :

1)      Al Qur’an

2)      Akhlak

3)      Syari’ah

4)      Muamalah dan

5)      Tarikh

Adapun ruang lingkup Pendidikan Agama Islam secara garis besar mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Alloh SWT, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesame manusia, dan manusia dengan mahluk lainnya.

Sedangkan tema pokok pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar adalah dengan landasan iman yang benar :

1)      Siswa mampu beribadah dengan baik dan tertib

2)      Siswa mampu membaca Al Qur’an

3)      Siswa membiasakan berakhlak baik

b.      Tujuan Pendidikan Agama Islam

Udin Sarifuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata dalam bukunya Perencanaan Pengajaran, menyebutkan bahwa tujuan umum pendidikan agama Islam identik dengan tujuan hidup, yang dapat dijabarkan dalam beberapa bagian, yaitu :

1)      Menyempurnakan hubungan  manusia dengan khaliknya.

2)      Menyempurnakan hubungan  manusia dengan sesamanya.

3)      Mewujudkan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kedua hubungan  tersebut dan mengaktifkannya sejalan dan terjalin dalam diri pribadi.(Ardiwinata dkk, 1996:121)

Perwujudan ketiga aspek tujuan tersebut dalam diri seseorang hanya dimungkinkan  dengan penguasaan ilmu, khususnya ilmu pengetahuan agama dan kebudayaan Islam.

Di samping tujuan umum, menurut H. Munzier terdapat juga tujuan khusus, yakni mendidik individu yang shaleh dengan memperhatikan segenap dimensi perkembangan rohaniah, emosional, social, intelektual dan fisik. (Munzier dkk, 2000:143)

c.       Fungsi Pendidikan Agama Islam

Fungsi pendidikan agama dalam UUSPN Nomor 2 tahun 1989 terdapat secara implisit dan eksplisit. Secara implisit yaitu Pasal 28 ayat (4)  membentuk manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti  luhur.(Bafadal, 1996:31)

F.     Kerangka Pemikiran

Diungkapkan Cik Hasan Bisri (Bisri, 1998:40) bahwa kerangka berpikir itu dapat berupa kerangka teori dan dapat berbentuk kerangka pemahaman logis.

Berdasarkan pendapat di atas maka pola pikir penelitian yang akan di ungkapkan oleh penulis adalah berdasarkan kerangka teori yakni Gelar akademik yang dimiliki guru dapat memberikan pengaruh pada proses belajar mengajar di dalam kelas, karena pengalaman yang di miliknya lebih mengenai masalah pendidikan, sehingga berdasarkan pemikiran bahwa bagi guru yang memiliki akademik (Gelar Sarjana) dapat memberikan motivasi bagi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Berdasarkan pemahaman tersebut, untuk mempermudah penulis dalam melaksanakan penelitian ini maka penulis membuat sebuah kerangka pemikiran dengan konsep sebagai berikut:

Bambar 1

Kerangka Pemikiran

G.    Hipotesis

Informasi  yang terungkap dari kerangka pemikiran tersebut di atas melahirkan asumsi dasar bahwa Guru bergelar Sarjana mempunyai hubungan dengan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam.

Atas dasar asumsi tersebut dapat dikemukakan hipotesis bahwa : “Semakin banyak guru bergelar sarjana, maka akan semakin baik motivasi belajar Pendidikan Agama Islam”.

Sebaliknya “Semakin sedikit guru bergelar sarjana, maka akan semakin buruk motivasi belajar Pendidikan Agama Islam”.

Hipotesis di atas mengasosiasikan  hubungan timbal balik atau sebab akibat. Dengan menggunakan taraf signifikasi 5 % (    Ho   = 0,05 ), maka untuk menguji hipotesis tersebut akan dites hipotesis nol ( Ho ),  yang menyatakan tidak ada hubungan yang signifikasi antara Guru Bergelar sarjana (variabel X) terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam (Variabel Y).

Prosedur penyajiannya akan dilakukan dengan membandingkan harga t hitung dengan t tabel. Prinsip yang dipedomaninya adalah  apabila harga t hitung > t tabel, maka hipotesis nol ditolak. Dalam keadaan lain hipotesis nol diterima.

H.    Langkah-langkah Penelitian

  1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di MI Bojongmalang Kecamatan Parigi Kabupaten Ciamis, dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan domisili penulis juga, sehingga akan mempermudah bagi penulis untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian tersebut.

Sedangkan waktu penelitian direncanakan dapat selesai  dalam jangka waktu tiga bulan, yaitu dari mulai bulan Maret 2011 sampai dengan tanggal Mei 2011.

  1. Variabel Penelitian

Definisi variabel adalah  sesuatu yang berbeda atau bervariasi, penekanan kata sesuatu yang diperjelas dengan definisi simbol atau konsep yang diasumsikan sebagai seperangkat nilai-nilai. (Thoyyar, 2007:40)

Dalam penelitian yang akan dilaksanakan terdapat dua variabel, yaitu :

  Variable X = Guru bergelar Sarjana
  Variable Y = Motivasi belajar PAI

Dari kedua variabel tersebut akan dicari hubungan korelasionalnya,  seberapa besar variabel X mempunyai pengaruh terhadap variabel Y, yang akan diukur dengan kaidah-kaidah perhitungan statistik.

  1. Metode Penelitian

Sesuai dengan karakteristik masalah yang diteliti dan pendekatan penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu “suatu metode yang bertujuan untuk melukiskan secara rinci dan sistematis fakta atau karakteristik  populasi tertentu  atau bidang tertentu secara faktual dan cermat” (LPP IAID 2001:16).

Metode deskriptif ini merupakan metode yang diarahkan  untuk memecahkan masalah  pada masa sekarang. Penentuan metode ini berpedoman kepada pendapat Winarno Surakhmad (1990:139) yang menyatakan bahwa metode ini digunakan untuk penyelidikan yang tertuju kepada pemecahan masalah pada masa sekarang. Sedangkan menurut Hariwijaya dan Bisri M. Djaelani berpendapat bahwa penelitian deskriptif bertujuan untuk meneliti dan menemukan informasi sebanyak-banyaknya dari suatu fenomena. (Djaelani, 2004:39).

Selain metode deskriptif, dalam penelitian ini penulis pun menggunakan metode eksperimen untuk memperoleh data tentang keadaan guru bergelar sarjana. Metode eksperimen adalah metode yang dijalankan dengan menggunakan suatu perlakuan (treatment) tertentu pada sekelompok orang atau kelompok, kemudian hasil perlakuan tersebut dievaluasi (Sandjaja & Heriyanto, 2006:122)

  1. Populasi dan Sampel

Populasi adalah sekelompok obyek yang akan diteliti, baik manusia, gejala, nilai, tes, benda-benda atau peristiwa (Surakhmad, 1990:92) sedangkan menurut Anas Sujiono (1981:1) yang dimaksud populasi adalah keseluruhan pihak yang seharusnya menjadi sasaran penelitian oleh peneliti. Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah  siswa Kelas V MI Bojongmalang yang berjumlah 20 siswa.

Sample adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti (Arikunto, 1993:104 ). Sedangkan menurut Huzni Thoyyar menyatakan bahwa sampel adalah subset (himpunan bagian) dari elemen yang diambil dari sebuah populasi (Thoyyar, 2004:3). Dilihat dari penentuannya, menurut Suharsini Arikunto  apabila subyek kurang dari  100 orang, maka sampelnya diambil dari keseluruhan populasi. Sedangkan jika subyeknya lebih dari 100 orang, maka sampelnya dapat diambil  antara 10% – 15% atau 20% – 25% atau lebih. Namun demikian tidak ada ketentuan pasti mengenai  berapa jumlah sampel harus representative,  dalam arti dapat benar-benar menggambarkan atau mencerminkan populasinya. Jika populasinya hampir homogen atau bahkan 100% homogen,  maka cukup mengambil sampelnya saja meskipun hanya setetes.

Maka dalam penulisan ini menggunakan sampel total (sampel Populasi) yang memiliki arti contoh, yaitu: “ sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian” (Mardalis, 1993 : 55). Maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel populasi (sampel total) yakni seluruh siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah Bojongmalang yang berjumlah 20 siswa.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Data dipakai sebagai bahan baku  dalam penelitian. Pengambilan data dari sumbernya mempunyai metode dan cara-cara tertentu. Tiap metode yang berbeda, perangkat pengumpulan data pun dapat berbeda teknik. Sedangkan  dalam kegiatan pengumpulan data dalam penelitian juga memerlukan ketelitian, kecermatan serta penyusunan program yang terinci. (Djaelani, 2004:42).

Adapun teknik untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan teknik sebagai berikut:

  1. Studi kepustakaan

Teknik ini digunakan dalam keseluruhan proses penelitian yang dilakukan sejak awal hingga sampai akhir pelaksanaan penelitian dengan cara  memanfaatkan berbagai macam pustaka yang relevan dengan fenomena sosial yang tengah dicermati. (Djaelani, 2004:44).

  1. Observasi

Yang dimaksud dengan observasi adalah pengamatan atau pencatatan  secara langsung dan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diteliti (Hadi, 1984:70). Teknik ini digunakan sebagai alat untuk melihat gambaran umum lokasi penelitian, kondisi obyektif MI Bojongmalang dan untuk melihat sarana dan prasarana MI Bojongmalang.

  1. Angket/kuissioner

Angket atau kuissioner adalah penyelidikan mengenai suatu masalah dengan cara mengedarkan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subyek untuk mendapatkan jawaban  seperlunya saja (Koentjaraningrat, 1991:173). Menurut cara penyampaiannya kuissioner dapat dibedakan menjadi angket langsung dan angket tidak langsung, dan menurut jenis pertanyaan yang akan diajukan dalam penelitian, dapat bersifat tertutup atau terbuka. (Djaelani, 2004:43).

  1. Teknik Analisis Data

Analisa data merupakan tahap yang penting dan paling menentukan dalam suatu aktifitas penelitian. Data-data yang telah terkumpul kemudian diolah dan di analisis sehingga diperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan. Analisis data juga mempunyai fungsi menemukan atau menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian yang sedang dilaksanakan.

Dalam analisis data ini, data kualitatif dianalisis dengan analisis logika dan data kuantitatif dianalisis dengan analisis statistic, sedangkan analisis statistic dilakukan melalui analisis parsial dan analisis korelasioner. Untuk mengetahui hasila analisa tersebut, penulis akan menghitung menggunakan program komputer yaitu  Statistical Package for Social Sciences ( SPSS )for windows versi 15.0.

Adapun proses analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Analisis Parsial

Analisis parsial ini dimaksudkan untuk menghitung dan menguji variabel X dan variabel Y secara terpisah. Alat analisis yang dipergunakan adalah :

1)      Tendensi sentral, dengan menggunakan Deskriptif Statistik  yang bertujuan untuk

-          Mencari rata-rata atau mean (M),

-          Mencari median (Md),

-          Mencari modus (Mo)

2)      Uji Normalitas distribusi dengan menggunakan uji Kolmogorof Smirnof

  1. Analisis Korelasi

Analisis ini dipergunakan untuk mengukur kadar keterkaitan antara variabel X  dan variabel Y, dengan cara :

1)      Menghitung koefisien korelasi dengan ketentuan sebagai berikut :

a)      Apabila datanya berdistribusi normal, maka menggunakan analisa korelasi product moment.

b)      Apabila salah satu atau kedua variabel yang diteliti itu tidak berdistribusi normal , maka digunakan metode statistik non parametrik dari Sperman yang dikenal dengan korelasi rank.

2)      Menentukan uji signifikansi koefisien korelasi

3)      Menghitung besar pengaruh variabel X terhadap variabel Y, dengan cara :

a)      Mencari nilai K (derajat tidak adanya pengaruh) dengan menerapkan nilai koefisien korelasi dan diterapkan ke dalam rumus :

k =  √ 1 – r²

b)      Mencari nilai E (derajat adanya pengaruh), dengan menggunakan rumus :

   E = 100 (1 – K)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu, et all

2004Psikologi Belajar. Rineka Cipta, Jakarta.Ali, Muhammad,

2000Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algesindo: BandungArdiwinata, dkk

1996

Materi Pokok Perencanaan Pengajaran Modul 1-6, Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka, JakartaArikunto, Suharsini,

1993

Prosedur Penelitian, Rineka Cipta Jakarta

 

Bafadal, dkk

1996

Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, Modul 1, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas TerbukaDarsono, Max

2000

Belajar dan Pembelajaran. CV. IKIP Semarang Press. Semarang.Depdiknas

2005

Peraturan Pemerintah Republik Indonedia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar NasionalDimyati dan Mudjiono

2002

Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta.Jakarta.Djaelani, dkk.

2004

Teknik Menulis Skripsi dan Tesis, Hanggar Kreator, Yogyakarta

 

Fathurrohman, Pupuh dan Sobry Sutikno. M.

2007

Setrategi Belajar Mengajar Melalui Konsep Umum dan Konsep Islami. Refika Aditama,  BandungHamalik, Omear

2001

Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, JakartaMappa, Syamsu

1994

Teori Belajar Orang Dewasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.Munzier, dkk,

2000

Watak Pendidikan Islam, Friska Agung Insani, JakartaNasution

2003

Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Bumi Aksara, JakartaSardiman, AM

1992

Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali Pers, Jakarta.Sudjana, Nana

2000

Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algesindo: Bandung.Surakhmat, Winarno

1990

Pengantar Penelitian Ilmiah, Tarsito, BandungSuryosubrata B.,

1983

Beberapa Aspek Dasar Kependidikan, Bina Aksara: JakartaTafsir,  Ahmad

1992

Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam,  Remaja Rosdakarya: Bandung.Thoyyar, Huzni,

2007

Metodologi Penelitian Pendidikan, IAID CiamisToyyar, Huzni,

2004

Dasar-dasar Statistik (Dilengkapi Teknik Analisis Menggunakan Program SPSS), Institut Agama Islam Darussalam CiamisUsaman, Uzur,

1999

Menjadi guru profesional, Remaja Rosdakarya: Bandung

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s